Cara Mengerjakan Soal Silogisme TIU SKD: Pola Valid, Pola Jebakan, dan Contohnya
Silogisme adalah salah satu subtes TIU yang paling sering membuat peserta ragu. Soalnya pendek, kalimatnya sederhana, tetapi pilihan jawabannya terdengar benar semua. Di sinilah banyak orang terpeleset: memilih yang mungkin benar, padahal yang diminta adalah yang pasti benar.
Panduan ini merangkum pola yang valid, pola jebakan yang paling sering dipakai pembuat soal, dan cara mengujinya dengan cepat. Semua contoh soal di bawah buatan kami, dan formatnya mengikuti soal TIU pada umumnya: beberapa premis, lalu satu kesimpulan yang harus ditentukan.
Satu aturan yang menyelesaikan separuh masalah
Anggap semua premis benar, lalu tanyakan pada setiap opsi: apakah opsi ini harus benar, tanpa tambahan asumsi apa pun? Kalau jawabannya "mungkin", opsi itu salah. Kalau ada opsi "tidak dapat disimpulkan" dan tidak ada opsi lain yang wajib benar, itulah jawabannya.
Dua keluarga soal
Silogisme di TIU hampir selalu masuk salah satu dari dua bentuk ini.
1. Bentuk "jika... maka..."
| Pola | Contoh | Status |
|---|---|---|
| Jika P maka Q. P benar. Maka Q. | Jika hujan, jalan basah. Hujan. Maka jalan basah. | Valid (modus ponens) |
| Jika P maka Q. Q salah. Maka P salah. | Jika hujan, jalan basah. Jalan tidak basah. Maka tidak hujan. | Valid (modus tollens) |
| Jika P maka Q. Jika Q maka R. Maka jika P maka R. | Rantai tiga pernyataan | Valid (silogisme hipotesis) |
| Jika P maka Q. Q benar. Maka P. | Jalan basah, jadi pasti hujan? | Tidak valid (jebakan) |
| Jika P maka Q. P salah. Maka Q salah. | Tidak hujan, jadi jalan pasti kering? | Tidak valid (jebakan) |
Dua baris terakhir adalah jebakan favorit. Jalan bisa basah karena disiram, dan tidak hujan tidak berarti jalan pasti kering. Untuk "jika P maka Q", satu-satunya pembalikan yang selalu aman adalah kontraposisinya: "jika bukan Q maka bukan P".
2. Bentuk "semua / sebagian / tidak ada"
Pakai gambar sederhana: lingkaran besar untuk "semua", lingkaran yang beririsan untuk "sebagian", dan lingkaran terpisah untuk "tidak ada". Beberapa aturan yang sering dipakai:
- "Semua A adalah B" tidak berarti "semua B adalah A".
- "Sebagian A adalah B" boleh dibalik menjadi "sebagian B adalah A".
- "Tidak ada A yang B" boleh dibalik menjadi "tidak ada B yang A".
- Lawan dari "semua A adalah B" adalah "ada A yang bukan B", bukan "tidak ada A yang B".
- "Sebagian A bukan B" tidak memberi tahu apa-apa tentang B yang bukan A.
Tiga contoh soal
Contoh 1: modus tollens
Jika proposal disetujui, maka anggaran dicairkan. Anggaran tidak dicairkan. Kesimpulan yang tepat adalah...
Pola jika P maka Q, Q salah. Kesimpulan yang wajib benar: proposal tidak disetujui. Opsi seperti "proposal disetujui sebagian" atau "anggaran dicairkan bulan depan" tidak dapat ditarik dari premis.
Contoh 2: jebakan konsekuen
Semua pegawai yang lulus pelatihan mendapat sertifikat. Rina mendapat sertifikat. Kesimpulan yang tepat adalah...
Banyak yang langsung memilih "Rina lulus pelatihan". Padahal premis hanya mengatakan semua yang lulus mendapat sertifikat, bukan hanya yang lulus yang mendapat sertifikat. Rina bisa mendapat sertifikat dari jalur lain. Kesimpulan yang tepat: tidak dapat disimpulkan apakah Rina lulus pelatihan.
Contoh 3: tiga premis
Semua guru adalah pegawai negeri. Sebagian pegawai negeri adalah pengurus koperasi. Tidak ada pengurus koperasi yang berusia di bawah 20 tahun. Kesimpulan yang pasti benar adalah...
Uji satu per satu dengan pertanyaan "apakah harus benar":
- "Sebagian guru adalah pengurus koperasi": belum tentu. Pengurus koperasi yang dimaksud bisa jadi pegawai negeri non-guru.
- "Tidak ada guru yang menjadi pengurus koperasi": belum tentu juga, premis tidak melarangnya.
- "Semua guru berusia di atas 20 tahun": tidak ada premis tentang usia guru.
- "Ada pegawai negeri yang tidak berusia di bawah 20 tahun": pasti benar. Sebagian pegawai negeri adalah pengurus koperasi, dan pengurus koperasi tidak ada yang di bawah 20 tahun.
Perhatikan bahwa jawaban yang benar justru yang paling sederhana dan paling "tidak menarik". Pembuat soal sering menaruh pengecoh yang terdengar lebih kaya, tetapi mensyaratkan asumsi tambahan.
Strategi mengerjakan
- Tulis simbol. Ubah setiap premis jadi P → Q atau gambar lingkaran. Jangan mengandalkan kesan.
- Cari rantai. Hubungkan premis lewat unsur yang sama. Kalau tidak ada unsur yang menyambungkan, kemungkinan besar jawabannya "tidak dapat disimpulkan".
- Uji opsi satu per satu. Cukup coret opsi yang masih bisa salah pada kondisi tertentu.
- Waspadai kata mutlak. "Semua", "selalu", dan "pasti" di opsi berarti butuh dukungan penuh dari premis. Opsi "sebagian" lebih aman, tetapi baru benar kalau premisnya memang menjamin ada irisan.
Satu peringatan soal sumber latihan
Sebagian materi latihan di internet memasukkan pola "jika P maka Q, Q benar, maka P" sebagai silogisme yang sah. Secara logika pola itu tidak sah, dan soal SKD yang baik justru memakainya sebagai jebakan. Kalau Anda menemukan pembahasan yang bertentangan dengan tabel di atas, bandingkan dengan sumber lain sebelum mengikutinya.
Ingin berlatih? Soal silogisme ada di paket tryout SKD, lengkap dengan pembahasan per soal. Kalau skor TIU Anda masih jauh dari target, baca juga berapa soal TIU yang harus benar untuk menentukan prioritas latihan.